Poverty Resource Center Bojonegoro

Bojonegoro merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Jawa Timur, Indonesia. Secara geografis, di wilayah utara berbatasan dengan Kabupaten Tuban, wilayah timur berbatasan dengan Kabupaten Lamongan dan di wilayah selatannya berbatasan dengan Kabupaten Madiun, Nganjuk dan Ngawi. Adapun di bagian barat  berbatasan dengan Kabupaten Blora -Jawa Tengah.

Luas wilayah Kabupaten Bojonegoro seluas230.706 Ha. Dengan klasifikasi 42, 74 persen berupa lahan hutan, 32, 65 persen lahan sawah. Berdasarkan sensus penduduk tahun 2010, jumlah penduduk mencapai 1.209.973 jiwa.  Selanjutnya pada tahun 2011 meningkat menjadi 1.216.781 jiwa dan meningkat lagi menjadi 1.217.850 jiwa di tahun 2014.

Persoalan mendasar dalam strategi dan program penanggulangan kemiskinan adalah ketersediaan dan akses data, termasuk intergrasi data antar-dinas terkait dalam penanggulangan kemiskinan di daerah. Hal tersebut diperparah dengan persepsi birokrat yang menganggap bahwa data pemerintah masih dianggap rahasia, sulit diakses, bersifat sektoral serta belum menjadi milik semua SKPD. Akibatnya, program-program penanggulangan kemiskinan ditengarai tidak efektif karena tidak adanya kesinkronan program yang tepat sasaran dan ditopang oleh data yang kuat. Tidak heran jika data tersebut juga sulit diakses oleh publik. Padahal, sekarang adalah era keterbukaan. Pemerintah harus terbuka jika ingin kebijakannya didukung oleh masyarakat, termasuk terbuka dalam memberikan akses publik atas data yang dimiliki pemerintah. Untuk membantu hal tersebut, Bojonegoro Institute bekerjasama dengan Publish What You Pay Indonesia atas dukungan Ford Foundation melakukan asistensi Pemerintah Kabupaten dalam mengembangkan website untuk database kemiskinan berbasis teknologi informasi, yang diberi nama Poverty Resource Center (PRC). Salah satu inisiasi  dengan pembuatan database yang ditampilkan dalam bentuk peta data dan grafik. Dalam peta kemiskinan ini, ditampilkan beberapa jenis peta dengan berbagai macam data. Menurut Direktur BI Syaiful Huda, Poverty Resource Center akan terus dikembangkan dengan menampilkan data-data potensial Kab. Bojonegoro, sehingga nantinya bisa membantu memudahkan pemangku kebijakan dalam menyusun perencanaan dan program penanggulangan kemiskinan. Selain itu, para akademisi, peneliti dan pegiat LSM/OMS serta pelajar dan mahasiswa dapat memanfaatkan PRC untuk lebih berpartisipasi dalam penanggulangan kemiskinan; dengan mengkaji, membuat analisa, rekomendasi/usulan/inovasi serta mengawasi  kebijakan penanggulangan kemiskinan di daerah.” Dengan kata lain PRC merupakan salah satu produk dari Resource Center TKPKD yang selama ini dibangun. Dimana TKPKD sebagai Resource Center harapannya bisa menjadi pusat kegiatan, koordinasi, integrasi, validasi dan monitoring percepatan penanggulangan kemiskinan di daerah. Responsif terhadap perkembangan dan kondisi kemiskinan di daerah. Serta menjadi wadah penyaluran aspirasi, inovasi, gagasan, program dan kebutuhan masyarakat miskin. Jika membaca data statistik berupa tabel bisa membuat dahi anda berkerut, ini tidak terjadi saat mengakses data lewat aplikasi ini. PRC ini juga tidak memerlukan proses instalasi yang rumit, selama ada software pendukung Adobe Flash Player. Kabar baiknya juga peta kemiskinan ini bisa diakses melalui smartphone dan PC. PRC yang sedang dirampungkan ini membuktikan bahwa selalu ada inovasi dalam pembangunan ketika good will hadir di pemerintah dan masyarakat. Yang masih menjadi PR setelah peta kemiskinan ini selesai adalah pemanfaatan data yang digunakan dalam penanggulangan kemiskinan masyarakat di daerah.

TIM PRC Bojonegoro

AW. SYAIFUL HUDA

AWeAwe, nama panggilannya. Pegiat Bojonegoro Institute ini, sejak kuliah telah aktif di pelbagai organisasi kemahasiswaan, baik intra maupun ekstra kampus. Aktifitas yang digelutinya sampai saat ini, mulai dari diskusi dan kajian, penelitian, advokasi dan asistensi kebijakan publik. Pria yang lahir dan tinggal di Bojonegoro ini juga sering menulis opini di beberapa media lokal, policy brief, esai dan lainya. Ia juga penikmat kopi, musik dan sastra. Klub Sepakbola yang digandrunginya, Chelsea FC dan Real Madrid.
Sejak januari 2014 sampai sekarang, Awe telah memegang kendali sebagai Direktur Bojonegoro Institute, sebuah Organisasi Masyarakat Sipil, yang bergerak di bidang penelitian, advokasi dan asistensi kebijakan publik.

ASRI KACUNG

ASRI KACUNGKacung panggilannya. Ia lahir di Bojonegoro dan sekarang sedang menempuh kuliah S2 di Thailand. Perokok berat ini, tergolong produktif menulis. Tulisannya sering dimuat di beberapa media lokal, dalam bentuk esai, opini dan cerpen. Pernah juga menjabat sebagai Pimpinan Redaksi Majalah Atas Angin, sebuah majalah sastra dan budaya di Bojonegoro.
Ghirrohnya terhadap isu-isu sosial sangat tinggi. Ia aktif dalam diskusi-diskusi kemiskinan. Pria berkacamata harry poter ini, beberapa kali aktif diskusi di SEGER (sekolah Gerakan), sebuah forum kaderisasi gerakan sosial di Bojonegoro.

DEDEXZ R.C

DedexzDedexz aka M. Rifa’i. Information technologi (IT)  merupakan pilihan dunianya. Selama dua semester menjadi mahasiswa baik-baik di salah satu perguruan tinggi lokal. Setelah dua semester, ia sudah tidak pernah masuk lagi.
Pria ini juga yang ikut berperan menggagas berdirinya komunitas Blogger Bojonegoro. dia juga aktif dibeberapa komunitas dan organisasi baik online maupun offline lokal dan nasional. Sekarang lagi sibuk mengelola startup yang dibuatnya bersama Jengker Media Kreatif.

AHMAD SYAHID

ahmad syahid tubanMahasiswa keluaran IKIP PGRI Bojonegoro ini sudah malang melintang di dunia asessment dan advokasi kebijakan publik. Pegiat Bojonegoro Institute, yang sering disapa Ustadz Syahid ini, punya hobi kajian dan diskusi. Syahid termasuk pria yang tidak merokok, dan lulus kuliah tepat waktu, tepat delapan semester.
Selain cerdas, Syahid juga kritis dan punya empaty terhadap persoalan-persolan sosial. Organisasi yang digelutinya pada saat kuliah, diantaranya aktif di  PMII Bojonegoro, BEM IKIP PGRI Bojonegoro dan lainnya.

"Kemiskinan bukanlah kecelakaan, seperti perbudakan dan apartheid. Ia ciptaan manusia dan bisa dihilangkan dengan tindakan kemanusiaan"

− Nelson Mandela:1918-2013